Mendengar siaran pojok kota di salah satu radio
RASIKA FM di semarang. Disitu pembawa acara sedang berbincang-bincang dengan para pemulung yang sedang menikmati sepotong roti yang cukup besar dari pemberian seorang bapak yang kebetulan lewat didepan mereka yang sedang istirahat siang depan sebuah instansi pemerintah di daerah Ungaran Jawa Tengah. Mereka berasal dari berbagai daerah yang bisa di bilang cukup jauh dari Ungaran. Salah satu ari mereka bernama Pak Musdi yang berasal dari Kendal Jawa Tengah mengatakan sangat prihatin dengan keadaan sekarang yang membuat ruang lingkup kerja mereka kian terbatas yang tentunya berimbas dengan penghasilan mereka per hari. Sekarang ini banyak orang yang menggunakan kedok pemulung buat mencuri, sehingga buat Pak Musdi yang sangat bangga di sebut pemulung. Karena bagi dia, Pemulung jauh lebih baik dari pada seorang pejabat yang suka mencuri hak rakyat. Dengan banyaknya orang yang menggunakan pemulung sebagai kedok mencuri, sekarang ini banyak perumahan atau lokasi-lokasi yang semakin protektif untuk melarang masuknya pemulung ke daerah mereka. Meski kadang-kadang harus nekat masuk meski dengan resiko diusir. Pak Musdi terpaksa untuk tetap masuk karena klo tidak masuk, berarti dia tidak bisa memenuhi gerobak yang setia menemani untuk mengais sampah demi rupiah untuk menghidupi keluarganya. Dahulu sebelum ada kejadian-kejadian seperti itu, Pak Musdi biasa membawa pulang rupiah hingga Rp. 30.000,- tapi sejak adanya kejadian tersebut, Pak Musdi terpaksa hanya bisa membawa pulang rupiah hanya Rp. 13.000,- sampai Rp. 15.000,- Tapi apa mau dikata, demi keluarga Pak Musdi harus menerima keadaan tersebut. Lebih lanjut lagi, sebenarnya Pak Musdi mempunyai cita-cita untuk beralih dari profesinya yang sekarang sebagai pemulung. Dia bercita-cita untuk membuka usaha jualan bakso. Cita-cita yang cukup tinggi untuk seorang pemulung yang berpenghasilan minim di tengah himpitan ekonomi sekarang ini. Rupiah demi rupiah yang dia dapatkan setiap harinya harus dia sisihkan demi terwujudnya cita-cita beliau. Terharu saya mendengar siaran tersebut, dengan semakin banyaknya kejahatan yang menggunakan kedok ekonomi. Pak Musdi tetap berjuang untuk tetap berusaha demi kesuksesan dirinya meski hanya sebagia pemulung. Sekian dulu tulisan saya ini. Semoga tulisan ini bisa membuat kita makin sadar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar